Skip navigation

Saya harus mengubah judul situs, dari sebelumnya Politics of Architecture 2008 menjadi Politics of Architecture (saja). Tak diduga kelas ini dibuka untuk kedua kalinya, berangkat dengan misi yang sama, namun memiliki banyak perkembangan isi dan akhir dibandingkan sebelumnya.

Mengapa politik? Mengapa kita perlu memperhatikan politik sebagai bagian dalam arsitektur?

Arsitektur dan politik saling bergantung. Entah itu arsitektur buruk maupun baik. Di balik karya arsitektur (publik) luar biasa tak jarang ada kebijakan (politik) dibaliknya. Tak jarang juga arsitektur menjadi penyuara kebijakan, dan arsitektur juga bisa menjadi koreksi atas poltik.

Dan disini arsitektur tidak berhenti pada bangunan belaka, tapi juga desain urban, tata ruang dan perkotaan – yang terkadang identik menjadi perpanjangan tangan dan upaya legitimasi pihak berkuasa – yang dalam hal ini menjadi pusat politik. Dan sementara arsitektur terkadang menjadi milik pribadi, swasta, warga, sehingga begitu arsitektur diletakkan dalam tempatnya – dalam suatu ranah publik yang legal, maka akan terjadi pertemuan antara keduanya.

Semester ini akan menyenangkan. Menyenangkan bagi mahasiswa, karena saya tidak akan memberikan ujian. Kita akan berpameran, kita akan mengkritik (tapi membangun), kita akan mempelajari Jakarta. Kita akan membagi dan membangun, dan berupaya menjadi lebih baik. Kita akan membuka wawasan dan berusaha memahami. Dan yang jelas, kita akan sama-sama belajar.

Selamat Tahun Baru 2009.

Memasukin tahun 2009, berarti berakhir pulalah mata kuliah Politics and Architecture untuk semester ganjil 2008.

Selama proses perkuliahan, saya menikmati proses pembelajaran kalian, dan berterima kasih atas peran aktif kebanyakan dari kalian selama masa seminar mahasiswa, kuliah-kuliah saya dan kuliah tamu.

Semoga mata kuliah mampu memberi perspektif baru, membuka sisi lain dari ruang, bahwa begitu banyak hal yang harus dinegoisasikan dalam satu ruang. Bahwa tidak selamanya arsitek dan perencana urban harus berada di langit saat memulai goresan desainnya.

Mengutip Henri Lefebvre (The Urban Revolution) berikut ini – semoga membuat kalian menyadari bahwa arsitek adalah hamba masyarakat, bukan sebaliknya:

The architect who draws and the urbanist who composes a block plan look down on their “objects”, buildings, and neighborhoods, from above and afar ….
Only after this nearly complete reduction of everyday do they return to the scale of lived experience ….
In this way of the blinding-blinded operations on a field that may appear to be illuminated but is in fact BLIND.

Bukalah mata kalian, pada saat kalian mulai berprofesi, dan hargai nurani dan kearifan lokal – agar tidak sampai terjadi Trowulan episode 2, 3, dan seterusnya.

Terima kasih,

Elisa Sutanudjaja

TATA CARA UJIAN

  1. Soal ujian dapat diperoleh di situs www.politicsarchitecture.wordpress.com pada tanggal 2 Desember 2008
  2. Setiap mahasiswa mendapat satu proyek dan wajib melakukan studi terhadap proyek tersebut.
  3. Mahasiswa wajib HADIR untuk penyerahan jawaban ujian pada tanggal 16 Desember 2008. Batas akhir pengumpulan adalah jam 08.30 WIB.
  4. Format pengumpulan adalah kertas A4 – tulisan tangan atau ketikan. Untuk memperjelas jawaban wajib untuk menyertakan denah/site plan dan foto-foto proyek terkait.
  5. Diharapkan untuk tidak mengutip langsung dari situs.
  6. WAJIB mencantumkan daftar pustaka dan referensi dalam lembar jawaban
  7. Soal berlaku untuk seluruh mahasiswa
  8. Apabila ada pertanyaan, silakan hubungi: elisa_3da@cbn.net.id

DATA PROYEK

1. 02220030030 : Arsya Wibawa – The Unite d’Habitation, Marseilles, France

2. 02220050004 : William Sudarso – Canary Wharf, Isle of Dogs, London, UK

3. 02220050013 : David Perdana – Euralile, Lille, France

4. 02220050032 : Vithricia Victorine – Lujiazui, Pudong, Shanghai, PRC

5. 02220050041 : M. Erdy Ernest – Battery Park City, New York, USA

6. 02220050049 : Indira Sari – Paternoster Square – London, UK

7. 02220050070 : Anggakara Dhira – Pariser Platz, Berlin, Germany

8. 02220050073 : Alfiando Sambudhi – Potsdamer Platz, Berlin, Germany

9. 02220060003 : Albert – Raleigh Park, Sydney, Australia

10. 02220060008 : Arden Adisuwignyo – Darling Harbour, Sydney, Australia

11. 02220060019 : Fransiskus Asisi Adhi – Expo 92, Seville, Spain

12. 02220060020 : Vina Stephanie – Acrosanti, Arizona, USA

13. 02220060038 : Andreas – Pershing Square, Los Angeles, USA

14. 02220060049 : Hardian – Ghirardelli Square, San Fransisco, USA

15. 02220060060 : Elfira Konghoiro – Aranya Township, Indore, India

16. 02220060069 : Yolanda Fransisca – Charles Center, Baltimore, USA

17. 02220060073 : Siska G – Paseo del Rio, San Antonio, USA

18. 02220060081 : Teddy – Pioneer Place, Portland, USA

19. 02220060082 : Ressa Hesti – Kuching Waterfront, Sarawak, Malaysia

20. 02220060084 : Natasha Jasmin – Oak Park Center Mall, Oak Park, USA

SOAL

  1. Jelaskan secara singkat latar belakang proyek (maksimal 100 kata)

  2. Dalam masyarakat demokratis terdapat 4 tipe/kategori desain urban yaitu Total Urban Design, All of A Piece Urban Design, Piece by Piece Urban Design dan Plug In Urban Design.

    Termasuk dalam kategori apakah proyek anda diatas ? Jelaskan. (maksimal 500 kata)

  3. Kritiklah proyek diatas berdasarkan kemampuan dan kapasitas proyek tersebut untuk memberikan kebebasan (freedom of access) dan ruang publik ? Apakah proyek diatas mampu berfungsi sebagai ruang publik ? (maksimal 200 kata)

Marco Kusumawijaya

Kuliahnya dibuka dengan kalimat ini:

Jakarta bukan gagal, melainkan belum pernah diberi kesempatan untuk berhasil.

Lalu apa itu Membayangkan Jakarta ? Adalah instalasi imajinasi pribadi berbagai kalangan, mulai dari arsitek hingga perupa, dari fotografer hingga penyair. Disitu mereka menggugat Jakarta.

Kemudian ada pula sanggahan – kata siapa Jakarta sudah padat ? Masih ada [banyak] tempat kosong (high five, Pak Marco), namun pemerintah dan swasta lebih memilih solusi mudah, cepat dan murah – yaitu mambangun suburban.

Gugatan Marco ada 2 yaitu mengenai Permukaan Ruang Publik (surface) dan Monas. Permukaan Ruang Publik digugat dengan Bundaran HI, ketika kita berhadapan pada kenyataan bahwa selama ini kita selalu bicara mengenai ruang, ruang, dan ruang. Lalu bagaimana dengan permukaan bangunan, permukaan ruang ? Siapa pemiliknya – publik kah atau pemilik bangunan kah ?
Hasil instalasi nya pun cukup lucu – alih2 reklame, Marco menggantinya dengan running text di beberapa spot Bundaran HI, yang berisikan pesan publik dan kamu pun bisa menuliskan pesan apa pun. Strategi serupa yang dipakai oleh Chanel MobileArt Tokyo dan Hongkong.

Sedangkan yang terakhir adalah gugatan terhadap Monas – sebuah ruang publik tapi tidak berlaku seperti layaknya ruang publik.
Mahasiswa pun mendapat banyak masukan mengenai sejarah Monas – termasuk fakta bahwa Lapangan Monas itu dulunya adalah halaman rumah Istana Negara. Dan Istana Negara itu dulunya adalah rumah orang kaya.
Marco menggugat Monas dengan melemparkan pertanyaan: Apakah menurut kalian Monas itu bagus ? Indah ?
Selama ini menurut beliau, tidak pernah ada satu kritik ataupun esai seni dan desain yang membahas keindahan Monas. Monas adalah produk ambisi seseorang yang dipaksakan untuk ‘tumbuh’ di sebuah ruang publik.

Idenya kemudian melakukan mapping Lapangan Monas seluas 80 hektar dengan peta Bukittinggi, termasuk didalamnya Ngarai Sianok. Bukittinggi dipilih karena daerah itu merupakan hasil konsensus bersama 40 nagari – daerah pasar tempat bertemu dan transaksi para nagari. Deskripsi ruang dan aktivitas publik semacam itu yang hendak diimpikan ada di Monas. Meniadakan sentralisasi dan kepusatan – itulah tujuannya.

Kuliah diselingi oleh berbagai cerita – mulai dari cerita Ayu Utami, sahabatnya, yang begitu mencintai kehidupan dan gemar naik turun gunung hingga kegiatan aktivis Marco seputar bundaran HI, sebagai saksi maupun sebagai pelaku. Tak lupa juga mengenai hak tanah di Indonesia yang bukanlah menjadi hak asasi, tetapi hak beberapa pihak.

1. 02220030030 : Arsya Wibawa – The Unite d’Habitation, Marseilles, France

2. 02220050004 : William Sudarso – Canary Wharf, Isle of Dogs, London, UK

3. 02220050013 : David Perdana – Euralile, Lille, France

4. 02220050032 : Vithricia Victorine – Lujiazui, Pudong, Shanghai, PRC

5. 02220050041 : M. Erdy Ernest – Battery Park City, New York, USA

6. 02220050049 : Indira Sari – Paternoster Square – London, UK

7. 02220050070 : Anggakara Dhira – Pariser Platz, Berlin, Germany

8. 02220050073 : Alfiando Sambudhi – Potsdamer Platz, Berlin, Germany

9. 02220060003 : Albert – Raleigh Park, Sydney, Australia

10. 02220060008 : Arden Adisuwignyo – Darling Harbour, Sydney, Australia

11. 02220060019 : Fransiskus Asisi Adhi – Expo 92, Seville, Spain

12. 02220060020 : Vina Stephanie – Acrosanti, Arizona, USA

13. 02220060038 : Andreas – Pershing Square, Los Angeles, USA

14. 02220060049 : Hardian – Ghirardelli Square, San Fransisco, USA

15. 02220060060 : Elfira Konghoiro – Aranya Township, Indore, India

16. 02220060069 : Yolanda Fransisca – Charles Center, Baltimore, USA

17. 02220060073 : Siska G – Paseo del Rio, San Antonio, USA

18. 02220060081 : Teddy – Pioneer Place, Portland, USA

19. 02220060082 : Ressa Hesti – Kuching Waterfront, Sarawak, Malaysia

20. 02220060084 : Natasha Jasmin – Oak Park Center Mall, Oak Park, USA

Apabila ada pertanyaan, silakan tinggalkan disini atau email ke elisa_3da@cbn.net.id

Itulah yang kurang lebih didengungkan kuliah umum tanggal 11 November kemarin. Dibawakan dengan menarik oleh Yohanes Budiyanto.

Dimulai dengan narasi yang unik mengenai pengelaman bersangkutan ‘tergoda’ dan ‘terjerat’ dalam kunjungan terakhirnya ke Tokyo, tepatnya ke flagship store Gucci di Ginza – lengkap dengan barang bukti jeratannya: coklat mungil bermonogram Gucci.

Kuliah dimulai dengan hal cukup teknikal, studi dan paparan menarik mengapa masyarakat mampu terjerat dalam konsumerisme, dan bagaimana kami para arsitek, perencana, interior designer dibantu dengan designer produk, grafis dan diberkahi oleh sekumpulan ‘pemikir’ brand image – membawa kita mengambil hingga membayar barang-barang (terkadang tidak) dibutuhkan ke depan kasir. Semuanya adalah konsipirasi.

Ini adalah anti regionalisme – ini adalah anak kapitalisme hasil buahan globalisasi. Namun jangan salah, kini pun kapitalisme dan konsumerisme mampu dibungkus sedemikian rupa dalam regionalisme – sehingga batas antaranya semakin kabur. Dan arsitektur pun mampu mengantarkan kekaburan itu.

Kuliah ini seakan merangkum satu semester mata kuliah jurusan real estate mengenai pusat perbelanjaan. Hal dasar dan penting yang patut diketahui dalam mendesain pusat perbelanjaan yang ‘baik’ dan mampu menjerat konsumen terdapat dalam kuliah ini. Dan bukannya tak mungkin ini menjadi bekal 40 mahasiswa yang hadir dalam kuliah – siapa tahu dimasa depan mereka menjadi desainer di Jerde, DP – spesialis pusat perbelanjaan – civic center versi kapitalis.

Jo membawa banyak barang bukti – mulai dari brosur-brosur cantik dari Gucci, Chanel MobileArt hingga travel book yang memadukan antara architour dan konsep belanja dan menginap di tempat hip (plus mengeluarkan banyak uang).
Dan seakan memberi nilai tambah, kuliah ini dilengkapi dengan foto-foto hasil jepretan pribadi yang berisikan sebagian kecil perjalanannya sepanjang tahun 2008: Dubai, Tokyo dan Hongkong.

Tak ketinggalan – sebagai penutup kuliah 1.5 jam namun tak membosankan – Jo mengeluarkan senjata pamungkas: Coklat Armani. Dia menuturkan bahwa kaitan antara arsitektur dan konsumerisme bagaikan coklat ini (oke, ini Forest Gump dan coklatnya). Tanpa boks, pita, kota dan monogram yang cantik (serta berbau Armani), coklat itu hanyalah coklat biasa. Namun begitu kita tambahkan segala macam aksesorisnya – coklat itu menjadi luar biasa. Consumerism is like THE BOX of chocolates.

poster2bw1Membayangkan Jakarta ….

Serasa menemukan bahwa Jakarta belum pernah diberikan kesempatan untuk berhasil…
belum pernah diberi ruang dan momentum yang cukup oleh cara membangun yang miskin wacana, miskin perspektif, miskin imajinatif, miskin partisipasi (KotaRumahkita, Marco Kusumawijaya).
Kapan ?

25 November 2008

Jam ?

08.30 – 10.00

Dimana ?

UPH Gedung B Lt.2, 2.10D


Gaya hidup modern tidak terlepas dari budaya konsumerisme.
Dimanakah arsitektur mendapat peran?
Apakah arsitektur dapat mempengaruhi pola konsumen atau sebaliknya?
Bagaimana relasi dan cerita yang terjalin antara keduanya?

Kapan? 11 November 2008

Jam? 08.30-10.00 pagi

Dimana? UPH Gedung B, Lantai 2, Ruang 2.10D

Be There or Be Square.

Terbuka untuk umum, Wajib untuk mahasiswa Politcs & Architecture