Skip navigation

Marco Kusumawijaya

Kuliahnya dibuka dengan kalimat ini:

Jakarta bukan gagal, melainkan belum pernah diberi kesempatan untuk berhasil.

Lalu apa itu Membayangkan Jakarta ? Adalah instalasi imajinasi pribadi berbagai kalangan, mulai dari arsitek hingga perupa, dari fotografer hingga penyair. Disitu mereka menggugat Jakarta.

Kemudian ada pula sanggahan – kata siapa Jakarta sudah padat ? Masih ada [banyak] tempat kosong (high five, Pak Marco), namun pemerintah dan swasta lebih memilih solusi mudah, cepat dan murah – yaitu mambangun suburban.

Gugatan Marco ada 2 yaitu mengenai Permukaan Ruang Publik (surface) dan Monas. Permukaan Ruang Publik digugat dengan Bundaran HI, ketika kita berhadapan pada kenyataan bahwa selama ini kita selalu bicara mengenai ruang, ruang, dan ruang. Lalu bagaimana dengan permukaan bangunan, permukaan ruang ? Siapa pemiliknya – publik kah atau pemilik bangunan kah ?
Hasil instalasi nya pun cukup lucu – alih2 reklame, Marco menggantinya dengan running text di beberapa spot Bundaran HI, yang berisikan pesan publik dan kamu pun bisa menuliskan pesan apa pun. Strategi serupa yang dipakai oleh Chanel MobileArt Tokyo dan Hongkong.

Sedangkan yang terakhir adalah gugatan terhadap Monas – sebuah ruang publik tapi tidak berlaku seperti layaknya ruang publik.
Mahasiswa pun mendapat banyak masukan mengenai sejarah Monas – termasuk fakta bahwa Lapangan Monas itu dulunya adalah halaman rumah Istana Negara. Dan Istana Negara itu dulunya adalah rumah orang kaya.
Marco menggugat Monas dengan melemparkan pertanyaan: Apakah menurut kalian Monas itu bagus ? Indah ?
Selama ini menurut beliau, tidak pernah ada satu kritik ataupun esai seni dan desain yang membahas keindahan Monas. Monas adalah produk ambisi seseorang yang dipaksakan untuk ‘tumbuh’ di sebuah ruang publik.

Idenya kemudian melakukan mapping Lapangan Monas seluas 80 hektar dengan peta Bukittinggi, termasuk didalamnya Ngarai Sianok. Bukittinggi dipilih karena daerah itu merupakan hasil konsensus bersama 40 nagari – daerah pasar tempat bertemu dan transaksi para nagari. Deskripsi ruang dan aktivitas publik semacam itu yang hendak diimpikan ada di Monas. Meniadakan sentralisasi dan kepusatan – itulah tujuannya.

Kuliah diselingi oleh berbagai cerita – mulai dari cerita Ayu Utami, sahabatnya, yang begitu mencintai kehidupan dan gemar naik turun gunung hingga kegiatan aktivis Marco seputar bundaran HI, sebagai saksi maupun sebagai pelaku. Tak lupa juga mengenai hak tanah di Indonesia yang bukanlah menjadi hak asasi, tetapi hak beberapa pihak.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.